Royal Golden Eagle Bisa Berkontribusi Untuk Penyediaan Listrik Indonesia

Pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, telah mencanangkan filosofi kerja khusus di perusahannya. Ia ingin RGE tidak hanya menjadi institusi bisnis yang mengejar profit belaka, namun juga mampu memberi manfaat kepada pihak lain. Tampaknya hal itu direalisasikan secara nyata oleh Royal Golden Eagle. Salah satunya dengan berkontribusi dalam penyediaan listrik nasional.

Source: Tribunnews

Perlu diketahui, Sukanto Tanoto sudah menggariskan prinsip yang dinamai 5C. Pada dasarnya, ini adalah panduan operasional dalam semua usaha di bawah payung Royal Golden Eagle. Di dalamnya terdapat kewajiban bagi semua anak usaha RGE untuk memberi manfaat kepada internal perusahaan, masyarakat, pelanggan, negara, hingga alam.

Arahan tersebut tampaknya dilakukan dengan baik oleh Royal Golden Eagle. Beberapa anak perusahaan yang awalnya bernama Raja Garuda Mas ini melakukan sejumlah terobosan untuk memberi manfaat kepada pihak lain. Salah satunya adalah Asian Agri yang mendukung langkah Pemerintah Indonesia dalam mengejar target kelistrikan nasional.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo telah mencanangkan misi untuk membangun pembangkit listrik dengan kapasitas mencapai 35 ribu megawatt. Target ini dinilai sangat ambisius, namun krusial bagi kemajuan bangsa. Pasalnya, suplai listrik di negeri kita masih kurang. Selain itu, peningkatan kemampuan penyediaan energi listrik diperlukan untuk mendongkrak kemajuan.

Saat ini, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengakui pihaknya masih kewalahan dalam menyeimbangkan antara tingkat permintaan dan ketersediaan pembangkit tenaga listrik. Menurut catatan PLN yang dirilis oleh Tirto.id, per 2016, jumlah peningkatan pembuatan pembangkit tenaga listrik dalam lima tahun sebelumnya hanya mencapai 6,5 persen. Pencapaian itu kalah tinggi dibanding kenaikan permintaan dalam kurun waktu sama yang mencapai 8,5 persen.

Jika ditotal, sampai 2015, kapasitas terpasang pembangkit PLN dan Independent Power Producer (IPP) di Indonesia adalah 48.065 MW. Kalau ditambah dengan pembangkit sewa sebesar 3.703 MW, maka kapasitas terpasang pembangkit listrik menjadi 51.348 MW.

Jumlah itu masih jauh di kapasitas ideal. Diprediksi sejak 2014 hingga 2019, jumlah kapasitas tenaga listrik yang dibutuhkan mencapai 35 ribu megawatt. Artinya setiap tahun harus ada pembangunan pembangkit baru dengan kapasitas tujuh ribu megawatt. Inilah yang akhirnya mendasari Pemerintah Indonesia mematok target pengadaan listrik tersebut.
Namun, tidak mudah untuk merealisasikan harapan. Jika sendirian, pemerintah akan kewalahan. Mereka butuh uluran tangan pihak lain termasuk swasta. Hal ini yang akhirnya mendorong Royal Golden Eagle berpartisipasi. Terpicu oleh kewajiban untuk memberi manfaat kepada negara, RGE aktif membantu pengadaan energi listrik di Inonesia. Caranya ialah dengan membangun sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBG).

Tidak tanggung-tanggung, Royal Golden Eagle melalui anak perusahaannya, Asian Agri, bertekad membangun PLTBG sebanyak 20 buah. RGE menargetkan semuanya selesai pada 2020. Namun, hingga Januari 2016, sudah ada lima PLTBG yang rampung dibangun dan siap beroperasi.

Di setiap PLTBG yang dibuat oleh grup usaha yang dulu dikenal sebagai Raja Garuda Mas ini akan menghasilkan energi listrik sebesar 2 megawatt. Menurut Manajer Pabrik Buatan 1 Asian Agri, Parnel Saragih, untuk membangun satu PLTBG, dibutuhkan biaya sekitar Rp 75 miliar. Hingga tahun 2020, perusahaan sawit milik pengusaha Sukanto Tanoto itu menargetkan membangun 20 PLTBG yang akan menghasilkan 40 MW listrik.

ENERGI RAMAH LINGKUNGAN

Source: Kompas

Royal Golden Eagle memutuskan untuk membangun pembangkit tenaga listrik sendiri karena dua alasan. Pertama ialah untuk memutar operasi perusahaan yang membutuhkan energi. Sedangkan yang kedua adalah menjaga kelestarian lingkungan.

Alasan kedua itulah yang akhirnya membuat Royal Golden Eagle membangun PLTBG. Mereka hendak memanfaatkan limbah dari pengolahan kelapa sawit menjadi produk yang bermanfaat. Ternyata biogas yang merupakan energi ramah lingkungan yang terbarukan bisa dihasilkan dari hasil buangan tersebut.

"Pembangunan 20 pembangkit tersebut bertujuan untuk mengolah limbah cair sawit Palm Oil Mill Effluent menjadi listrik yang akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik operasional, fasilitas umum maupun fasilitas khusus yang dimiliki perusahaan," General Manager Asian Agri Freddy Widjaya kepada Kompas.com.

Dikatakan oleh Freddy, langkah yang diambil pihaknya berarti penting bagi kelestarian lingkungan. Pasalnya, gas metana yang dihasilkan oleh limbah kelapa sawit akan berdampak buruk jika dilepaskan ke udara.

Kebetulan ini juga selaras dengan prinsip kerja di Royal Golden Eagle. RGE memang bertekad untuk membantu menjaga keseimbangan iklim. Hal tersebut hanya bisa terjadi jika mampu memertahankan kelestarian lingkungan.

Hal tersebut dibenarkan oleh Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana. Oleh karena itu, pihaknya mengapresiasi langkah Royal Golden Eagle dalam membangun PLTBG.

"Pembangkit ini memanfaatkan gas metana yang dihasilkan dalam pengolahan. Jika lepas ke atmosfer, gas itu lebih berbahaya dibanding karbon dioksida. Dengan memanfaatkan gas ini menjadi listrik, hal ini akan mengurangi dampak lingkungan," lanjut Ridha.

PLTBG dibuat oleh Royal Golden Eagle dengan digester tank yang merupakan teknologi dari Jepang. Sistem ini dinilai lebih unggul karena prosesnya menggunakan an aerobic membarne tank yang mempercepat dan memaksimalkan proses pembentukan gas metana.

DISALURKAN KE MASYARAKAT
Hingga 2016, Royal Golden Eagle telah membangun lima buah PLTBG yang tersebar di Provinsi Sumatera Utara, Riau, dan Jambi. Ini berarti karena kapasitas per PLTBG menghasilan 2 megawatt, RGE telah menghasilkan 10 megawatt.

Jumlah itu memang kecil dibanding target pemerintah Indonesia yang mencapai 35 ribu megawatt. Namun, biarpun sedikit, kontribusi Royal Golden Eagle tidak bisa disepelekan. Pasalnya, mereka meringankan beban pemerintah dengan cara membagikan listrik untuk masyarakat.

Grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini menakar untuk operasional perusahaan membutuhkan 700 kilowatt. Dengan demikian, dalam satu PLTBG yang dibuat oleh RGE masih ada sisa 1,3 megawatt.

Royal Golden Eagle berencana untuk menyalurkannya ke masyarakat. Kebetulan ini sejalan dengan langkah RGE yang harus berguna terhadap pihak lain seperti masyarakat di sekitarnya. Dalam pelaksanaan, Royal Golden Eagle berencana untuk bekerja sama dengan PLN. Terbuka kemungkinan untuk menjual sisa 1,3 megawatt kepada PLN.

"Seandainya satu rumah sederhana membutuhkan 90 watt, maka kelebihan listrik Asian Agri ini dapat dimanfaatkan oleh lebih dari 7.000 rumah, yang berarti akan ada begitu banyak kebutuhan listrik perumahan rakyat yang dapat didukung oleh pabrik biogas Asian Agri," kata Freddy.

Royal Golden Eagle tidak berniat memanfaatkan energi listrik yang tersisa secara komersial. Mereka hanya ingin berbagi dan memberi manfaat kepada negara sesuai mandat yang digariskan pendirinya, Sukanto Tanoto, supaya berguna untuk negara. Oleh karena itu, mereka mengundang pihak swasta lain, terutama yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit, untuk mengikuti jejaknya membangun PLTBG.
"Bila seluruh pelaku industri kelapa sawit di Indonesia melakukan kebijakan serupa, maka masalah listrik nasional bisa teratasi tanpa investasi pemerintah," kata Parnel.

Pernyataan itu ada benarnya. Seharusnya banyak pihak bertindak seperti Royal Golden Eagle. Sebagai entitas bisnis, RGE ternyata tidak hanya memikirkan kepentingan perusahaan. Grup yang dulu dinamai Raja Garuda Mas ini juga peduli terhadap pihak lain. Bahkan, mereka ingin memberi manfaat kepada masyarakat dan negara dengan cara membantu penyediaan listrik nasional.

No comments

Powered by Blogger.